berlangsung selama delapan hari di depan gedung parlemen, termasuk untuk mengisi kekosongan aktivitas DPR selama masa reses.
Salah satu peserta aksi, Meri, menegaskan bahwa kelompoknya tidak lagi membuka ruang kompromi dan meminta DPR segera mengambil langkah atas tuntutan tersebut.
“Ini sudah hari ke-8 kami di sini, Mas. Tuntutan kami cuma satu, turunkan Gibran! Sudah enggak ada lagi kata kompromi Gibran harus turun!” kata Meri saat ditemui wartawan di depan gedung DPR, Senanyan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Ia mengatakan, massa memanfaatkan masa reses DPR untuk terus menyuarakan tuntutan mereka. Menurutnya, persoalan ijazah Gibran yang mereka persoalkan seharusnya tidak lagi menjadi alasan untuk menunda pembahasan di parlemen.
“Nah, kami ke sini sudah 8 hari mengisi kekosongan karena di dalam reses,” ujarnya.
Meri juga meminta DPR segera menggelar sidang dan memanggil Gibran untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut. Ia menilai persoalan ijazah yang mereka angkat telah selesai melalui proses di Mahkamah Konstitusi (MK).
“Jadi masalah ijazah Gibran itu sudah final, sudah banding sudah tidak bisa lagi diganggu gugat dan tidak perlu lagi diganggu gugat,” kata Meri.
Selain itu, Meri menyebut pihaknya telah mengetahui adanya upaya penyampaian aspirasi melalui surat kepada DPR. Ia mengklaim Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPPTN) telah tiga kali mengirimkan surat, tetapi belum mendapatkan tanggapan sebagaimana yang mereka harapkan.
“Tiga kali FPPTN itu sudah bersurat ke DPR, DPR tidak bergeming itu kan kurang ajar!” tuturnya.
Meri menjelaskan, aksi tersebut merupakan gabungan sejumlah elemen masyarakat sipil, termasuk KMPRI, Formasi, PNSI, dan Aspirasi. Ia menegaskan kelompoknya akan terus bertahan di depan gedung parlemen sampai tuntutan mereka terpenuhi.
“Thank you ya, Abang-abang Mary, Mary Samiri ya. Kami dari KMPRI, tapi kami gabungan, ada dari Formasi, ada Ibu dari PNSI, ada dari Aspirasi, jadi kita gabung,” kata Meri.
Ia menegaskan, kelompoknya tidak akan menghentikan aksi sebelum tuntutan penurunan Gibran dipenuhi
Sumber: Holopis